supreme paper

PELUANG USAHA BIDANG FOOD PACKAGING / KEMASAN MAKANAN

PELUANG USAHA BIDANG FOOD PACKAGING / KEMASAN MAKANAN
www.kertassupreme.com

Pertimbangan utama: populasi penduduk Indonesia +/- 250 jt, dgn persentasi tinggi umur produktif, ditambah dgn meningkatnya daya beli masyarakat krn kenaikan penghasilan perkapita yg disebabkan oleh:
1. Perbaikan infrastruktur jalan yg mengakibatkan kemudahan petani dan penduduk didaerah yg jauh dr kota, utk mengirim hasil usahanya ke daerah2 yg membutuhkan dgn biaya yg lebih terjangkau.
2. Bertambahnya jumlah pengusaha dibidang kreatif dan sosial media
3. Bertambahnya tenaga kerja skill, sehingga meningkatkan penghasilan.
4. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan

Trend saat ini menunjukan peningkatan konsumsi penjualan makanan siap saji.

Masalahnya saat ini banyak kemasan makanan baik berupa kertas bungkus bewarna coklat dan dus makanan duplex (yg bagian belakang bewarna abu2 atau coklat) yg tdk memenuhi standard foodgrade, banyak beredar dipasar, disebabkan oleh murahnya harga bahan kertas bungkus dan bahan duplex tsb.

Menurut penelitian LIPI, kertas bungkus makanan bewarna coklat dan dus makanan (yg bgn dalam bewarna abu/coklat) mengandung kandungan bahan berbahaya beracun, logam berat dan terkontaminasi dgn banyak koloni bakteri.
Hal ini disebabkan krn kertas bungkus makanan coklat dan karton duplex terbuat dari bahan kertas daur ulang yg banyak mengandung racun kimia dan logam berat. Ditambah dgn bahan lapisan plastiknya juga dr bahan recycle yg bukan foodgrade.
Seharusnya dampak buruk bisa diminimalkan, jika proses produksi kertas daur ulang dimulai dgn pemisahan bahan kertas dan plastik dgn bahan berbahaya beracun dan logam berat. Sayangnya proses tsb tdk dijalankan karena proses tsb memerlukan biaya yg mahal yg berakibat pada naiknya harga jual kertas bungkus makanan berbahan daur ulang.

Hal ini diperburuk dgn mudah bocornya lapisan plastik sehingga tampak bercak2 bekas bocor yg berakibat terkontaminasinya makanan yg bersentuhan dgn kertas bungkus coklat.

Keuntungan memakai Kertas Supreme
1. Konsumen makanan mendapatkan makanan yg terbungkus dgn aman (standard food grade)
2. Tampilan makanan lebih bersih dan terjaga qualitasnya
3. Kemasan yg baik akan menaikan nilai jual makanan

Potential market utk Kertas Supreme
1. Catering, alas tray dan piring rotan,
2. Chain restaurant: kertas bungkus makanan, alas tray, alas box makanan (martabak, ayam & bebek goreng/panggang), sumpit, wrapping kue berminyak,
3. Kantong snack, kantong makanan, gula sachet,
4. Amenities, kantong muntah
5. Distributor utk toko2 yg jual kertas bungkus coklat.

Sumber Referensi:

http://lipi.go.id/lipimedia/bahaya-kertas-cokelat-pembungkus-makanan/20525

Amankah Kertas Pembungkus Nasi Bagi Kesehatan?

https://intisari.grid.id/amp/031271793/ternyata-ada-bahaya-mengintai-dari-bungkus-nasi-berwarna-coklat-yang-sering-digunakan-masyarakat-indonesia?page=all

Perlunya menggunakan kertas bungkus makanan food grade

Kesibukan bekerja membuat kita sering membeli membeli makanan diluar rumah.
Pernahkah kita memberi perhatian khusus terhadap pembungkus/kemasan makanan yang kita beli tersebut?
Apakah kita menyadari, jenis serta mutu kertas pembungkus nasi/kemasan makanan yang kita pergunakan setiap hari, dapat berdampak buruk bagi kesehatan kita?

Kertas bungkus berwarna coklat, dan karton duplex (karton packaging yg bagian dalam bewarna abu2) adalah jenis kemasan yang paling umum digunakan sebagai kemasan nasi bungkus, nasi kotak, dus martabak dan dus/kotak kue.
Perlu diketahui bahwa karton duplex dan kertas bungkus coklat terbuat dari kertas bekas seperti koran, majalah dan packaging untuk bahan kimia berbahaya dan beracun, yang umumnya terkontaminasi krn mengandung tinta cetak dan bahan-bahan kimia berbahaya lainnya.

Zat-zat berbahaya tersebut dapat menimbulkan penyakit seperti kanker, kerusakan hati dan kelenjar getah bening, menganggu sistem endokrin, meningkatkan resiko asma, mutasi gen, dan lain-lain.

Dlm penelitian mengenai bahaya kertas bungkus cokelat dan karton duplex, Dr Lisman Suryanegara, (Koordinator Pusat Penelitian Biomaterial LIPI), mengungkapkan adanya komponen tinta cetak, bahan kimia berbahaya seperti pemutih, perekat, wax, hingga logam berat dan banyak koloni bakteri dalam kertas bungkus cokelat dan karton duplex.

Menurut Jessica Yonaka dari Komite Humas dan Hubungan Internasional Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia, sekitar 80% dari jumlah total kemasan pangan yg terbuat dr kertas dan karton belum memenuhi standard keamanan. Bahkan produk itu bisa membahayakan kesehatan krn mengandung senyawa kimia berbahaya dan beracun. Dalam pengujian laboratorium bersama dgn LIPI di sample kertas daur ulang, ditemukan ada kandungan logam berat dan ftalat yg bisa memicu ganguan hormon dan ada kandungan kimia lain spt formaldehid dan klorofenol yg bersifat karsinogenik pemicu kanker. ( dr artikel “Sebagian Kertas Kemasan Pangan Belum Aman”, harian Kompas 17 May 2017).

Jenis makanan (spt berminyak atau berkuah), waktu kontak, serta luas permukaan kontak dgn makanan akan turut memicu kecepatan migrasi bahan kontaminan ke makanan.
Namun sayangnya masih sangat banyak kita temukan penggunaan kertas bungkus cokelat dan dus berbahan duplex disekitar kita.
Salah satu penyebab maraknya penggunaan kedua bahan tsb adalah karena harganya yang dianggap relatif lebih murah dan kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan bahaya dan resiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan.

Untuk edukasi masyarakat akan bahaya dari bahan kemasan tersebut, berbagai lembaga bidang kesehatan pangan dan makanan seperti Badan POM, LIPI, dan LPPOM MUI sudah melakukan Rangkaian roadshow food safety packaging yang dilaksanakan di tiga lokasi, antara lain Jakarta, Bandung, dan Semarang. Program ini bertujuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat untuk hidup sehat, salah satunya memilih kemasan pangan yang food grade dan higienis.

Penggunaan kemasan makanan berbahan dasar serat alami dan bahan pelapis foodgrade seperti Kertas Supreme, ( www.kertassupreme.com )
baik untuk makanan dan konsumen.
Pemakaian Kertas Supreme sebagai alas utk kotak makanan dgn bahan duplex juga sdh dimulai dibeberapa rumah makan dan katering.
Alternatif lainnya, menggunakan peralatan tempat makanan spt rantang untuk menjauhkan Anda dari penyakit. Walaupun tidak praktis, setidaknya hal itu aman untuk diri dan kesehatan kita nanti.

Copy to a new draft

 

Dampak Penggunaan Pembungkus Kertas

• VIVA – Beberapa waktu lalu, pemberitaan soal dampak penggunaan pembungkus kertas nasi berwarna coklat yang sering digunakan di warung-warung makan menyeruak.
Bagaimana tidak, pembungkus kertas yang sudah jadi kebiasaan masyarakat Indonesia sehari-hari itu dikabarkan berbahaya jika digunakan dalam jangka waktu panjang.
Pemberitaan tersebut diawali oleh postingan warganet soal penelitian Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) yang menyebutkan soal bahaya pembungkus kertas berwarna coklat tersebut. Bahayanya tidak tanggung-tanggung, risiko kanker dan penyakit lainnya siap menanti.
Menanggapi hal itu, VIVA mencoba menghubungi pihak yang bersangkutan Dr. Lisman Suryanegara (Pusat Penelitian Biomaterial LIPI), koordinator peneliti yang melakukan penelitian seputar kertas pembungkus tersebut.
Dalam wawancara via telepon, Lisman membenarkan soal penelitiannya. “Kegiatan penelitian tersebut tentang kemasan pangan. Kami targetkan untuk kertas kemasan yang bahan bakunya recycle paper (kertas daur ulang). Karena kertas daur ulang ada komponen tinta yang mengandung mineral oil dan komponen bahan kimia lainnya seperti pemutih, perekat, wax, hingga logam berat.”
Lebih lanjut ia menyebut bahwa dikhawatirkan ada potensi migrasi bahan berbahaya dari kemasan yang terbuat dari kertas daur ulang pada makanan.
“Tapi kertas pembungkus, kan banyak macamnya. Awalnya kami targetkan pada kertas dupleks yang sering digunakan untuk membungkus makanan seperti nasi kotak, snack atau martabak yang biasa digunakan di pedagang pinggir jalan,” ujarnya.
Penelitian tersebut dilakukannya dengan membandingkan kemasan yang terbuat dari kertas daur ulang dengan kertas yang terbuat dari virgin fiber (serat kayu). Sebagai kertas pembanding, tim LIPI yang berjumlah lebih 5 orang itu juga melakukan penelitian kertas bungkus nasi yang sering digunakan masyarakat.
“Penelitian kemasan kertas tersebut berlangsung 2 tahun, hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam kertas bungkus nasi ada kandungan zat berbahaya seperti mineral oil dan logam berat. Bahkan data uji mikrobiologi menunjukkan adanya kandungan bakteri sekitar 1,5 juta koloni, kalau kertas yang terbuat dari virgin fiber sekitar 400an.”

Tidak berbahaya jika tidak bermigrasi
Lebih lanjut, Lisman juga meyebutkan bahwa pembungkus kertas tersebut tetap aman digunakan jika bahan berbahaya tersebut tidak bermigrasi pada makanan. Migrasi dapat diminimalisir dengan melapisi kertas kemasan daur ulang dengan plastik PE atau dilapisi dengan kertas food grade.
“Sebanyak apapun cemaran di dalam kertas kemasan, selama tidak pindah pada makanan itu aman tak masalah. Sekarang sudah dikembangkan teknologi coating yang dapat menghambat migrasi zat berbahaya dari kertas daur ulang.”
Migrasi bahan berbahaya dari kemasan pada makanan dipengaruhi beberapa faktor, “Misalnya suhunya tinggi, asam, berkuah, berminyak, itu memudahkan perpindahan pencemaran,” ujarnya.
Masyarakat dikatakannya juga dapat memilih jenis kertas yang food grade atau sudah masuk standar SNI.
“Secara umum kertas kemasan yang food grade terbuat dari virgin fiber (bukan terbuat dari recycle fiber), cirinya berwarna putih.”
Masyarakat tak perlu khawatir
Lebih lanjut Lisman menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukan tahun 2013-2015 tersebut sudah case close karena sudah disampaikan dalam rapat teknis penyusunan SNI kemasan kertas bersama pihak Kementerian Perindustrian dan BSN.
“Itu penelitian lama (2013-2015) data penelitian kami juga sudah disampaikan dalam rapat teknis penyusunan SNI terkait kemasan pangan. Bersama Kementerian Perindustrian yang dihadiri BSN dan instansi terkait. SNI terkait kertas untuk kemasan sudah terbit tahun 2015,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menyebut bahwa masyarakat tidak perlu lagi khawatir. “Jika seluruh produsen mengikuti standar tersebut aman saja.”

kertas supreme

Cermat menggunakan Kertas Pembungkus

Seberapa sering kita membeli membeli makanan diluar rumah? Setiap hari ???
Apakah kita memberi perhatian khusus terhadap pembungkus/kemasan makanan yang kita beli tersebut?
Apakah kita menyadari, kelalaian kita dalam memperhatikan jenis serta mutu kertas pembungkus nasi/kemasan makanan yang kita makan setiap hari, 30 hari sebulan, 365 kali setahun terus menerus dapat berdampak buruk bagi kesehatan kita?

Dalam keseharian, kertas nasi bungkus berwarna coklat, dan karton duplex adalah jenis kemasan pangan primer berbahan kertas yang paling lazim digunakan sebagai kemasan nasi kotak, kotak kue, dan nasi bungkus. Perlu diketahui bahwa karton duplex dan kertas nasi bungkus berwarna coklat terbuat dari kertas daur ulang (koran, majalah, buku, kertas bekas lainnya), yang mungkin sudah terkontaminasi dan mengandung tinta cetak, perekat, lilin, bahan pencelup, serta bahan-bahan kimia lainnya.

Zat-zat berbahaya di atas berdampak negatif terhadap tubuh manusia sehingga dapat menimbulkan penyakit seperti kanker, kerusakan hati dan kelenjar getah bening, menganggu sistem endokrin, kelahiran prematur, meningkatkan resiko asma, mutasi gen, dan lain-lain.

Selain itu, mikroorganisme dan jamur dapat tumbuh pada kertas bekas. Kandungan mikroorganisme pada kertas tersebut juga menunjukkan nilai tertinggi dibandingkan jenis kertas lainnya. Fakta penting lainnya yaitu ditemukannya kandungan logam berat yang relatif tinggi pada kertas yang mengandung serat daur ulang.
Salah satu pengamat industri pabrik kertas mengatakan bahwa kertas bekas termasuk koran dan majalah seharusnya tidak digunakan untuk membungkus bahan pangan secara langsung karena mengandung timbal yang jika terakumulasi dalam tubuh dapat beresiko membahayakan kesehatan. Jenis bahan pangan, konsentrasi, waktu kontak, serta luas permukaan kontak juga turut memicu migrasi.
Namun sayang nya masih sangat banyak kita temukan penggunaan bungkus makanan berbahan kertas daur ulang disekitar kita Salah satu penyebab maraknya penggunaan kertas daur ulang adalah karena harganya yang relatif lebih murah ataupun kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan efek samping yang ditimbulkan.
Untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya dari alat tersebut, berbagai bidang kesehatan pangan dan makanan seperti Badan POM, LIPI, dan LPPOM MUI sudah melakukan Rangkaian roadshow food safety packaging yang dilaksanakan di tiga lokasi, antara lain Jakarta, Bandung (29/11/2016), dan Semarang (1/12/2016). Program ini bertujuan untuk memberi edukasi kepada masyarakat untuk hidup sehat, salah satunya memilih kemasan pangan yang food grade dan higienis.
Penggunaan kemasan makanan berbahan dasar kertas non daur ulang bisa menjadi solusi. Kemasan kertas non daur ulang, yang 100% terbuat dari serat alami baik untuk konsumen, makanan dan lingkungan. Seperti di luar negeri, trennya sudah seperti itu jadi untuk mengurangi limbah karena biasanya kemasan ini biodegradable dan sudah memiliki standar keamanan
Alternatif lainnya, menggunakan peralatan tempat makanan untuk menjauhkan Anda dari penyakit. Walaupun tidak praktis, setidaknya hal itu aman untuk diri dan kesehatan kita nanti.